Total Pageviews

Popular Posts

Viewers

Pages

Powered by Blogger.
Saturday, August 9, 2014
-Teh Parakansalak-
Mutiara Terpendam yang Terancam Hilang
Oleh Muyasara Nilam Alifia



Parakansalak, sebuah tempat di bagian utara Kabupaten Sukabumi. Di tempat ini, kita bisa menjumpai hamparan luas kebun teh, pabrik pengolahan teh, dan sebuah danau bernama Situ Sukarame.


Pertama kali menjejakkan kaki di sini, mata kita akan dimanjakan oleh hijaunya kebun teh yang terhampar luas bagaikan permadani hijau. Cukup banyak kebun teh yang tersebar di daerah Jawa Barat. Salah satunya adalah di Parakansalak. Dahulu, kebun teh ini dimilki oleh Gubernur Jendral Van Der Hucht. Pada 1844, ia memperluas perkebunan teh di Parakansalak. Kebun teh ini mempunyai ketinggian antara  625 hingga 950 meter.

Pucuk teh di Parakansalak ini dipetik setiap harinya. Pucuk-pucuk teh itu selanjutnya dikeringkan dan diolah menjadi teh yang siap dikonsumsi di pabrik yang letaknya masih satu area dengan perkebunan tersebut. Saat ini baik perkebunan maupun pabrik teh dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII. Teh produk PTP Nusantara VIII ini telah lama diekspor ke mancanegara dengan merk Teh "Walini"







Melengkapi keindahan Parakansalak, di sini juga terdapat sebuah danau bernama Situ Sukarame. Udaranya sejuk dan pemandangannya elok. Untuk dapat masuk ke sana, kita tidak dipungut biaya apapun. Danau yang tersembunyi di antara lembah kebun teh ini merupakan danau alam yang difungsikan sebagai irigasi oleh penduduk sekitar. Pada hari libur tempat ini ramai oleh pengunjung yang tengah menikmati fasilitas yang disediakan, seperti perahu yang disewakan untuk berkeliling danau, flying fox, atau sekedar menikmati pemandangan sekitar danau. Beberapa dari mereka terlihat sedang memancing di sudut danau. Sambil melepas lelah, para pengunjung dapat beristirahat di pondok-pondok di pinggir danau yang menyajikan makanan dan berbagai macam jajanan. Alasan danau ini ramai dikunjungi selain karena aksesnya tidak terlalu jauh dengan jalan utama, harga fasilitas yang disediakan juga cukup terjangkau.




Tidak sulit untuk mencapai lokasi ini. Tempat ini dapat diakses menggunakan kendaraan umum berupa angkot jurusan Parungkuda-Parakansalak. Ongkosnya terbilang murah, sekitar Rp.5000 per orang. Setelah sampai di Terminal Parakansalak, kita dapat menyewa jasa ojek menuju tempat-tempat yang sudah disebutkan.



Selain melalui jalur Parungkuda, kita bisa melewati jalur Cidahu menuju Parakansalak.
Aku memilih melewati jalur ini karena jaraknya lebih dekat daripada jalur Parungkuda. Sayang, permukaan jalan yang kulewati sedang dalam kondisi rusak sehingga banyak perbaikan jalan disana-sini.




Karena letaknya yang cukup dekat dari rumahku, perjalanan menuju Parakansalak dapat kutempuh kurang dari 30 menit. Sepanjang perjalanan, mataku dimanjakan dengan hijaunya pemandangan.


Di balik keindahan Parakansalak, tersembunyi sebuah masa depan yang ironis dari tempat ini. Kabarnya, kebun teh di Parakansalak ini akan diganti oleh tanaman kelapa sawit yang menurut pengelola PT. Perkebunan Nusantara VIII memiliki keuntungan yang lebih besar ketimbang tanaman teh. Padahal, teh yang diproduksi di pabrik ini telah diekspor ke mancanegara. 

Bagaimana jadinya bila hamparan kebun teh yang hijau ini hilang? Masyarakat sekitar harus bahu-membahu dalam mempertahankan salah satu warisan nenek moyangnya ini. Karena, jika dirawat dan dikelola dengan baik Parakansalak dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang dapat berpengaruh pada kemajuan daerah tersebut.





0 comments:

Rainbow Pinwheel Pointer